Dalam sebuah kesempatan, saya pernah bertukar pendapat dengan pengasuh rubrik Apresiasi Syair Buletin Sidogiri (BS), Ust. Fadoil Kholik. Ini kesempatan emas. Kesempatan itu, bagi saya pribadi, begitu berharga. Sebab, dari mana saya akan memulai menjadi ‘besar’, kalau tidak dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang yang ‘lebih besar’.
Saat
itu, sebenarnya, saya hanya diminta mengomentari isi apresiasi beliau pada tiga
judul puisi terpilih BS. Saya semangat. Saya mengamati betul isi tiga
judul puisi itu, sekaligus apresiasinya. Mungkin karena didorong oleh semangat
yang berlebihan, saya malah lebih banyak ngomongin puisinya dari pada
apresiasinya. Meski demikian, diskusi kecil itu tetap berlanjut.
Entah
pada sesi ke berapa, saya mengomentari salah satu dari tiga puisi yang berjudul
Ibu, yang menurut saya kurang baik. Saya bacakan puisi itu dengan gaya
saya. Puisi itu, menurut hemat saya, terlalu—maaf—kekanak-kanakan, banyak
mengaduh dan terlihat dibuat terlalu tergesa-gesa.
Meski
manggut-manggut menanggapi pendapat saya, tapi budayawan hebat yang bernama pena
Afak Akram ini, menolak gaya penyampaian puisi versi saya tadi. Beliau lalu
membacakan puisi itu dengan gayanya, yang anehnya enak sekali didengar dan
menjadikan puisi itu ‘terasa’ lebih baik.
Saya
kemudian banyak belajar dari pengalaman bertukar ‘otak’ itu. Satu objek,
menurut hemat saya, memiliki sudut pandang yang beragam, sesuai dari mana objek
itu diekspos. Seperti pembacaan puisi tadi itu. Sudut pandang bacaan puisi saya
itu lebih didukung oleh semangat mengkritik. Tidak seperti sang Apresiator BS itu
yang sudut bacanya, menurut saya, didasari oleh kesadaran mengapresiasi.
Jadilah kami memiliki sudut yang berlawanan.
Perbedaan
sudut pandang bukanlah perkara baru. Ia memang muncul untuk memancing kita agar
lebih luas melihat sesuatu dari berbagai sudut. Maka pantas, jika kemudian ada
yang menilai bahwa, gedung MMU itu megah sebab bangunannya yang tinggi menjulang.
Namun di saat yang sama, orang lain menilai gedung itu justru jelek karena
bangunannya yang tertutup. Siapa yang salah?
Dari
keberagaman sudut pandang itulah, Anda tahu, media mengambil peran yang cukup
besar dalam membentuk opini masyarakat. Melalui media, sudut pandang masyarakat
dibentuk sesuka pengelola media dan orang-orang yang berkepentingan, agar ikut
memandang ke arah yang dimau. Sayang, sudut pandang itu kini lebih marak
ditujukan untuk membentuk Islamphobia dan pendangkalan keagamaan.
Sekali
lagi, sudut pandang berperan penting di sini, dan sayangnya, Barat dan
kebanyakan medianya memakai sudut pandang yang culas. Mereka memandang Islam
dari keburukan salah satu ulah pemeluknya, bukan dari keindahan ajarannya. Maka
jangan heran kalau suatu hari, ada seorang Muslim yang memandang Islam sebagai
agama yang ‘sesat’, sebab telah dituntun oleh sudut pandang orang Barat yang
‘sesat’ pula. Naudzubillah!
Begitulah
sudut pandang, memiliki hukum sendiri yang kadang menakutkan!
Lalu,
bagaimana kelanjutan perbedaan sudut pandang saya dengan Ust. Fadoil itu? Saya
tak pernah tahu bagaimana nasib selanjutnya, sebab setelah pembacaan puisi itu,
saya tidak lagi memberi komentar. Hal itu karena saya haqqul yakin, Ust.
Fadoil pun menyadari bahwa, perbedaan sudut pandang itu niscaya, termasuk dalam
menikmati puisi orang.
Dan
saya harus lebih banyak belajar!