catatan #5

catatan #5

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah bertukar pendapat dengan pengasuh rubrik Apresiasi Syair Buletin Sidogiri (BS), Ust. Fadoil Kholik. Ini kesempatan emas.  Kesempatan itu, bagi saya pribadi, begitu berharga. Sebab, dari mana saya akan memulai menjadi ‘besar’, kalau tidak dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang yang ‘lebih besar’.
Saat itu, sebenarnya, saya hanya diminta mengomentari isi apresiasi beliau pada tiga judul puisi terpilih BS. Saya semangat. Saya mengamati betul isi tiga judul puisi itu, sekaligus apresiasinya. Mungkin karena didorong oleh semangat yang berlebihan, saya malah lebih banyak ngomongin puisinya dari pada apresiasinya. Meski demikian, diskusi kecil itu tetap berlanjut.
Entah pada sesi ke berapa, saya mengomentari salah satu dari tiga puisi yang berjudul Ibu, yang menurut saya kurang baik. Saya bacakan puisi itu dengan gaya saya. Puisi itu, menurut hemat saya, terlalu—maaf—kekanak-kanakan, banyak mengaduh dan terlihat dibuat terlalu tergesa-gesa.
Meski manggut-manggut menanggapi pendapat saya, tapi budayawan hebat yang bernama pena Afak Akram ini, menolak gaya penyampaian puisi versi saya tadi. Beliau lalu membacakan puisi itu dengan gayanya, yang anehnya enak sekali didengar dan menjadikan puisi itu ‘terasa’ lebih baik.
Saya kemudian banyak belajar dari pengalaman bertukar ‘otak’ itu. Satu objek, menurut hemat saya, memiliki sudut pandang yang beragam, sesuai dari mana objek itu diekspos. Seperti pembacaan puisi tadi itu. Sudut pandang bacaan puisi saya itu lebih didukung oleh semangat mengkritik. Tidak seperti sang Apresiator BS itu yang sudut bacanya, menurut saya, didasari oleh kesadaran mengapresiasi. Jadilah kami memiliki sudut yang berlawanan.
Perbedaan sudut pandang bukanlah perkara baru. Ia memang muncul untuk memancing kita agar lebih luas melihat sesuatu dari berbagai sudut. Maka pantas, jika kemudian ada yang menilai bahwa, gedung MMU itu megah sebab bangunannya yang tinggi menjulang. Namun di saat yang sama, orang lain menilai gedung itu justru jelek karena bangunannya yang tertutup. Siapa yang salah?
Dari keberagaman sudut pandang itulah, Anda tahu, media mengambil peran yang cukup besar dalam membentuk opini masyarakat. Melalui media, sudut pandang masyarakat dibentuk sesuka pengelola media dan orang-orang yang berkepentingan, agar ikut memandang ke arah yang dimau. Sayang, sudut pandang itu kini lebih marak ditujukan untuk membentuk Islamphobia dan pendangkalan keagamaan.
Sekali lagi, sudut pandang berperan penting di sini, dan sayangnya, Barat dan kebanyakan medianya memakai sudut pandang yang culas. Mereka memandang Islam dari keburukan salah satu ulah pemeluknya, bukan dari keindahan ajarannya. Maka jangan heran kalau suatu hari, ada seorang Muslim yang memandang Islam sebagai agama yang ‘sesat’, sebab telah dituntun oleh sudut pandang orang Barat yang ‘sesat’ pula. Naudzubillah!
Begitulah sudut pandang, memiliki hukum sendiri yang kadang menakutkan!
Lalu, bagaimana kelanjutan perbedaan sudut pandang saya dengan Ust. Fadoil itu? Saya tak pernah tahu bagaimana nasib selanjutnya, sebab setelah pembacaan puisi itu, saya tidak lagi memberi komentar. Hal itu karena saya haqqul yakin, Ust. Fadoil pun menyadari bahwa, perbedaan sudut pandang itu niscaya, termasuk dalam menikmati puisi orang.
Dan saya harus lebih banyak belajar!