Catatan: Santri, Kawah Candradimuka Pesantren


Setiap liburan pesantren di depan hidung, sebenarnya seorang santri sedang dihadapkan pada berbagai tantangan. Ia tak semata-mata pulang berlibur tanpa membawa beban dan misi apa-apa. Ada banyak PR di rumah. Makanya sebelum berlibur, para santri harus ditausiyahi dulu agar keteguhannya setebal pagar baja.

Konon, di rumahlah cobaan dan godaan nyata bagi seorang santri. Ia akan terbukti sudah teguh pendirian dan mengamalkan ilmunya jika, nanti, di rumah tak goyah sama sekali digoda kenikmatan dan pemikiran-pemikiran liar, la yamilu yumnatan wa la yusratan...
Cobaan dan godaan di pesantren hanya tamsil, semacam peringatan saja agar segera berbenah dan itu hanya secuil dari keutuhan cobaan ketika nanti kembali pulang ke kampung halaman masing-masing.
Maka kejadian alam semacam tsunami, gempa bumi, global warming, dan banjir bandang bukanlah kiamat, ia hanya salah satu bentuk peringatan Tuhan pada kita agar segera berbenah dan introspeksi diri. Semua itu masih secuil dari akbarnya huru-hara kiamat yang sesungguhnya.
Layaknya seorang pahlawan yang sekian tahun mengasingkan diri dan menggembleng pengetahuan di tempat uzlah, santri selalu dielu-elukan kehadiran. Mereka dinanti bukan hanya karena lama tak berjumpa, tapi justru karena diharap ilmu dan tindakan-tindakan menggugahnya yang penuh tatakrama.
Bagi saya, atau sudah menjadi pendapat umum, santri adalah ‘iklan’ paling sempurna yang menggambarkan wajah pesantren, meski tak secara keseluruhan tentunya. Mereka adalah kawah candradimuka pesantren. Darinya orang banyak tahu dan menilai bahwa pesantren tak hanya mengajarkan pendidikan, tapi juga menekankan pentingnya etika bersosial masyarakat.
Namun dari mereka pula orang akan memberi penilaian miring tentang pesantren. Bukankah jamak kita saksikan santri yang kedapatan, misalnya, membonceng perempuan non-muhrim ketika pulangan, minum khamer, kebut-kebutan di jalan dan segala hal yang tak berbau ke-santri-an. Meski hanya perbuatan sebagian oknum, namun efek ‘ledak’nya bisa mengalahkan kekuatan bom pemusnah massal sekalipun!
Maka sangat disayangkan jika seorang santri tak lagi mengenali identitasnya, naudzu billah! Sebab khalayak sudah terlanjur memberi predikat berharga pada santri, agent of change. Namun apalah arti sebuah predikat jika tak selaras dengan penyandang predikat itu sendiri.
Mengemban nama ‘santri’ jauh lebih berat daripada menjadi tentara sekalipun. Ia tidak hanya disuguhi beban moral dan pendidikan, jauh dari itu ia juga harus menanggung tanggung jawab keilmuan di hadapan Yang Maha Kuasa.
Maka liburan ini, marilah kita jadikan ajang pembelajaran dan mempraktekkan ilmu pengetahuan yang kita dapat dari pesantren, menyebarkan nilai-nilai luhur pesantren kepada masyarakat dan membumikan kebaikan. Betapa indah dan sejuknya mata memandang.
Selamat berlibur!
Previous
Next Post »