Saya pernah membaca terjemah salah satu ayat surat Lukman. Isinya
sungguh menggetarkan hati. Dan janganlah
kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di
bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membanggakan diri.
Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai bermunculan dalam kepala.
Bagaimana kalau ternyata kita masuk dari salah satu orang yang disebutkan itu.
Misalnya kita termasuk dari orang-orang yang angkuh. Lantas ketika berjalan,
kita merasa tak ada lagi yang lebih hebat selain kita?
Bagaimana bila kita termasuk dari golongan yang sombong, sehingga
untuk sekedar melihat wajah orang lain pun kita enggan? Bagaimana jika ternyata
kisah kesombongan Fir’aun, yang dengan berani mengaku sebagai tuhan itu terjadi pada kita hari ini. Lalu dengan serta
merta kita mengingkari keesaan dan segala nikmat yang telah Allah limpahkan.
Sehebat apakah kita, jika ternyata untuk mensyukuri nikmat yang paling kecil
saja kita tak sudi? Na’udzubillah!
Tahu si Qorun? Seorang lelaki yang awalnya taat pada Nabi Musa,
kemudian mengingkari kenabiannya lantaran sudah kaya. Saking kayanya, konon,
kunci pintu harta Qorun harus diusung oleh sepuluh orang. Tapi apakah yang
kemudian ia dapat dari kesombongan dan keangkuhannya, selain adzab dari Allah,
yaitu ditelan bumi bersama semua harta-hartanya?
Bagaimana jika ternyata keingkaran, keangkuhan dan kesombongan
Qorun itu terjadi pada kita? Lalu dengan sombong kita tak mau bersyukur.
Padahal kita, misalnya, hanya memiliki secuil harta? Atau bagaimana jika
ternyata kita lebih sombong dan angkuh dari pada Qorun itu sendiri? Na’udzubillah…
Dan saya lebih tertegun lagi membaca terjemah surat Al-Ma’un. Maka, celakalah orang yang shalat. (yaitu)
orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. Yang berbuat riya’. Dan enggan
(memberi) bantuan.
Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan lagi dalam otak. Bagaimana
jika orang yang lalai itu adalah kita. Mungkin disebabkan oleh hiburan, atau
alasan lainnya hingga membuat kita lalai pada kewajiban. Bagaimana jika kisah
Barshishah yang mampu beribadah sekian tahun, lalu hangus begitu saja hanya
dengan menenggak khamar itu terjadi pada kita?
Bagaimana jika orang yang riya’ itu adalah kita juga. Maka, apakah
gunanya kita beribadah sedemikian rupa jika ujung-ujungnya hanya untuk mendapat
pujian orang lain, bukan semata-sema lillahi
ta’ala? Sungguh amal kita akan terbakar sia-sia. Tak tersisa. Seperti panas
setahun yang dihapus oleh hujan sehari?
Bagaimana jika orang yang enggan mengulurkan tangan itu adalah kita.
Bahkan untuk sepeser pun kita tak mau mengulurkan pada para yatim, atau pada
teman kita yang sedang membutuhkan? Bukankah Nabi mengajarkan, tangan yang
berada di atas lebih mulia dari pada tangan yang berada di bawah? Tapi adakah
kita sudah mengamalkannya. Bagaimana jika kita dicap sebagai hamba yang merugi
di akhirat kelak, sementara di dunia kita merasa menjadi hamba yang paling
hebat dan paling shaleh.
Saya mengetik tulisan ini dengan pertanyaan yang terus berseliweran
dalam otak. Tak henti-henti. Tentang hidup, ibadah dan jiwa kita sendiri yang
tak kunjung kita kenal!
0 Komentar