Catatan: Cobaan dan Hal Lain


Posisi tinggi selalu dianalogikan dengan sebuah pohon oleh para ahli hikmah. Pohon yang tumbuh semakin tinggi, maka semakin besar pula tantangannya. Angin yang menerjang pohon tinggi jauh lebih ‘kasar dan keras’ ketimbang terjangannya pada pohon kecil. Maka tak heran jika posisi ‘tinggi’ selalu mengundang ‘bisik-bisik halus’ dari lidah-lidah tak bertanggung jawab.
Ada saja yang menjadi bahan cuap-cuap. Entah pujian, gangguan, kecaman, nada-nada sumbang atau gerutu kesal. Sebab posisi tinggi memang bukan ‘posisi aman’. Seperti kisah kebesaran dan kesabaran Nabi Ayyub as. Hilang harta, keluarga, masih juga hilang kesehatan. Namun, sampai sekujur tubuhnya dipenuhi borok sekalipun, beliau tetap sabar. Bahkan bersyukur! Sebab beliau sadar, masih ada Tuhan di hatinya. Maka sebesar apapun cobaan, bagi orang-orang yang lapang dada terlihat seperti debu yang mudah dienyahkan.
Lingkungan sekitar kita menyuguhkan banyak kenyataan tentang hal ini. Orang-orang baik yang mendambakan revolusi budaya, misalnya, terus ‘digoyang’ posisinya. Perjuangannya selalu dibayangi puluhan cobaan yang terus antri. Bisa jadi karena didasari unsur iri hati, cemburu atau apalah... Tapi begitulah cara Allah swt. berkehendak. Sebab, kata seorang Ustad, perjuangan itu seperti orang berlayar. Semakin ke tengah, semakin besar pula gelombang dan badainya. Dan orang yang banyak cobaannya, berarti derajatnya akan diangkat oleh Allah swt. Masalahnya sekarang, sekuat apakah kita menahan cobaan itu?
Bukankah setan harus mengeluarkan jurus pamungkasnya, yakni menyamar sebagai ‘Tuhan’, untuk merayu dan mengganggu Syeikh Abdul Qodir Jilani. Setan iri pada beliau yang sabar dan taat itu. Namun kemudian jurus itu tumpul di hadapan Syeik Abdul Qodir lantaran ia sabar. Kalau pada kita, mustahil setan akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Terlalu berlebihan. Setan cukup berbisik halus sedikit saja, maka pikiran kita akan melayang ke mana-mana. Dan begitulah tingkat ibadah kita yang tak kunjung naik ke posisi tertinggi (?).
Berbanding terbalik dengan orang-orang yang mendapat derajad tinggi di sisi Allah Swt. Mereka bahkan ikut tersenyum jika kebaikannya ‘ditiru’ oleh orang lain atau mendapati orang lain berbuat baik melebihinya. Dan begitulah hati orang-orang yang terus membersihkan diri. Seperti kata Nabi Muhammad Saw; jika baik hatinya, maka baik jugalah seluruh amal perbuatannya. Tetapi jika buruk hatinya, maka buruk jugalah seluruh amal perbuatan.
Orang besar, kata sebuah kalam hikmah, adalah orang yang mampu menghargai kebesaran orang lain. Maka masalah menghargai kadang memang menyakitkan. Sebab hal itu membutuhkan kekuatan hati. Seperti pemain sepakbola yang tak percaya atas kekalahan klubnya. Padahal berjuta-juta orang menjadi saksi atas kekalahan menyakitkan itu. Terlebih jika ada yang ‘ngompori’ dan menjadi ulat. Semakin panaslah ia. Semua disalahkan. Padahal ia tahu persis, dalam dunia kompetisi hanya ada dua kenyataan, menang atau kalah.
Keadaan seperti inilah yang melahirkan adagium khas Madura, “Angoan potê tolang, ê têmbeng potê matah.” Dan hal itu tak baik untuk ditiru. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Previous
Next Post »