“Sukses itu, ketika kita bisa mengupayakan harapan dengan cara yang
benar dan penuh kesungguhan. Meskipun mungkin tidak tercapai.”
Mas Dwy Sadoellah mengukir kata-kata bijak itu dengan sederhana
sekaligus mengena. Saya mendapatinya tergurat di sebuah banner IMNI Ibtidaiyah yang terpampang di samping pintu gerbang MMU
As-Suyuthi. Saya rasa, ini bukan hanya warning
bagi peserta IMNI saja, tapi lebih bisa diumumkan sebagai ta’rif bersama.
Demi terwujudnya cita-cita, kadang kita mengupayakannya dengan
berbagai cara tidak sehat. Apalagi cita-citanya memang sesuatu yang menyimpang
dari kebenaran, sudah dapat dipastikan cara-caranya akan ikut keluar dari jalur
kebenaran. Maka istilah ‘berbohong demi kebenaran’ pun masih menuai banyak kontroversi. Bukan masalah ‘tujuannya’,
melainkan karena ‘bohongnya’ yang tak dapat dibenarkan sama sekali.
Pada zaman yang serba menuntut seperti hari ini, sebagian dari kita
kadang harus ‘berpanjang tangan’ untuk mendapatkan legalitas gelar orang
‘beruang’. Dan atas nama gengsi, kadang cara apapun akan ditempuh demi
tercapainya cita-cita tersebut. Tak menutup kemungkinan cara-cara nakal. Ada
juga yang mengatasnamakan hidup. Maka, merugikan orang lain pun dianggap
sebagai cara terbaik untuk menyambung hidup. Lalu terjadilah pemalakan,
pencopetan dan pencurian.
Kita memang dituntun menjadi seperti kincir angin yang tak boleh
berhenti. Sebab zaman terus bergerak, diam berarti tertinggal atau bahkan
terlindas. Kulihat, kata Abu Tammam, matahari semakin dicintai manusia, semata
karena ia tak pernah diam di tempatnya. Namun hal ini bukan berarti kita
‘halal’ berbuat sesuka hati tanpa melihat rambu-rambu. Sehingga sukses yang
kita capai dengan penuh tanggungjawab dan gentle
man tak merugikan orang lain.
Kita tak boleh menafsiri kata-kata Friedrich Nietzsche secara
telanjang, siapa yang memiliki alasan
untuk hidup akan mampu mengatasi persoalan hidup dengan cara apapun. Sebab
‘cara apapun’ itu berarti menghalalkan segala cara. Dan agama melarang keras
hal tersebut. Maka kita memang tak boleh menukar keyakinan, lebih-lebih agama,
hanya demi sesuap nasi. Seperti orang-orang pribumi yang menukar
nasionalisme-nya dengan ‘sebutir jabatan’ dari para penjajah terkutuk, Belanda.
Gagal itu, kata Mas
Dwy, ketika kita mengupayakan harapan
dengan cara-cara nakal dan penuh kecurangan, meskipun mungkin berhasil.
Maka kadang keberhasilan sebuah tindakan tak selalu penuh manfaat apalagi
barakah. Hal itu karena adanya kecurangan dan rasa tidak ikhlas dalam meraih
kesuksesan tersebut.
Keberhasilan pun akan terlihat sebagai kegagalan jika upaya kita
tidak sehat. Seperti jabatan kebanyakan politikus kita. Keberhasilan hebat yang
menipu. Bukankah kursi yang diduduki oleh wakil kita di Senayan itu, kebanyakan
adalah hasil dari upaya nakal semacam money
politic. Anehnya, mereka kadang justru bangga pada keberhasilan ‘najis’
itu. Dan ini ironis.
Semoga saja kita termasuk sebagai orang yang berhasil dan memberi
manfaat bagi sesama. Jika demikian, apa yang kita upayakan sudah pasti barakah.
Amin…
0 Komentar