Catatan: Tentang Sabar


Seorang guru menjadikan pengemudi becak sebagai contoh nyata dari terpujinya sifat sabar. Kenapa becak yang dipilih? Ya, becak bukan saja alat transportrasi tradisional, lebih dari itu ia adalah wujud dari semangat kerja keras orang-orang kelas bawahan sekaligus bukti simple adanya kata-kata bijak ‘tamu adalah raja’.
Saya menduga penemu becak ingin mengatakan bahwa konsep transportasi yang ia ciptakan adalah perwujudan dari abdi sejati seorang pemangku mobilitas kehidupan masyarakat. Dugaan saya ini mengacu pada peletakan jok pengemudi yang berada di belakang jok penumpang, hal ini mengisyaratkan adanya sifat kepemimpinan (pengemudi) yang terus mengawasi rakyatnya (penumpang). Juga, merupakan sikap mendahulukan kepentingan rakyat (penumpang).
Seorang tukang becak, menurut gurunya guru saya, tetap semangat dengan beban yang sangat menumpuk. Tak pernah mengeluh. Saking semangatnya, hingga untuk melihat arah jalan di depannya saja ia sangat kesulitan. Namun ia terus mengayuh becaknya dengan senyum riang. Dengan pandangan dan kesiagaan yang tetap awas.
Begitulah tamsil sederhana tentang sabar itu. Bahwa sesungguhnya, semakin besar beban yang menimpa seseorang, dalam hal ini beban yang di angkut si tukang becak, maka perlu besar pulalah kesabaran yang harus dimiliki. Semakin banyak, maka gerak kendaraan semakin pelan. Begitu juga dengan kesabaran. Semakin menumpuk cobaan yang mendera, semakin tertatih-tatih pula pemikulnya.
Si tukang becak tak merasa perlu memikirkan apa yang menjadi beban becaknya. Tak masalah beban sebanyak apapun, toh, kaki tetap mengayuh. Itu karena si tukang becak melihat ‘upah’ yang sudah disediakan. Pikiran normalnya jelas membantah, jika upah yang akan diterima tak sebanding dengan beban yang ia tanggung.
Maka orang-orang yang sabar atas segala cobaan hidup itu, jelas memiliki spirit lain dari orang kebanyakan. Mereka melihat, ada setumpuk pahala yang disediakan bagi orang-orang yang sabar.  Dan cobaan macam apapun jenis kelaminnya, akan mereka hadapi dengan tenang dan penuh keyakinan.
Bukankah Nabi Ayyub tetap pada kesabaran dan keimanannya meski harus kehilangan keluarga, harta dan kesehatan. Setan pun cemburu. Maka predikat ‘ulul azmi itu bukanlah sekonyong-konyong karena ketampanan atau kekayaan seorang rasul, bukan. Predikat itu hanya bagi mereka yang kesabarannya menggugah!
Orang-orang seperti maling, copet, pencuri, koruptor dan tetek bengeknya yang berbahaya bagi ketentraman masyarakat itu, bukan berarti tidak mendapat jatah rezeki dari Allah SWT. Sama sekali tidak. Jangankan maling, makhluk terkecil pun rezekinya telah ditanggung oleh Allah SWT. Hanya saja mereka kurang bersabar.
Contohnya begini, misalnya, Allah telah mengutus seorang hamba untuk memberi maling wa akhawatiha segepok uang. Berhubung mereka kurang bersabar, maka jalan pintas pun dipilih. Padahal, misalnya, uang yang dicuri adalah rezeki yang sudah disediakan Allah SWT padanya. Sayang, ketidaksabaran telah membuat mereka berbuat batil.
Tentang sabar ini, alangkah baiknya jika kita menyontoh sang teladan sejati, Nabi Muhammad SAW. Sepanjang hidup, dengan segala cobaannya, beliau tetap sabar. Kehilangan istri tercinta, paman tercinta -yang kemudian dinamakan ‘ammul hazan-, dan tekanan dari orang kafir Quraisy yang  tek pernah selesai.
Maka bersabarlah, agar menjadi umat Muhammad SAW yang bisa dibanggakan!
Previous
Next Post »