Santri,berdasarkan
peninjauan tindak langkahnya adalah orangyang berpegang teguh pada Al-Quran dan
mengikuti sunnah Rasul SAW. dan teguh pendirian ...
Potongan teks yang
digurat oleh Hadratussyeikh Hasani Nawawi ini sudah seperti darah bagi santri
Sidogiri. Walau sebagian besar kita belum bisa mengaktualkannya secara utuh,
paling tidak kita mampu menghafalnya diluar kepala. Siapa tahu, suatu saat teks
sakti ini yang menjadi pengingat bagi kesadaran kita dalam keteguhan memegang
prinsip.
Keteguhan, kira-kira
seperti kisah sahabat Bilal ketika ia masih berstatus budak. Alkisah, tubuh
Bilal yang hitam legam dijemur di tanah lapang oleh tuannya. Alasannya sederhana
saja; untuk merontokkan iman Bilal.
Tapi, siapa nyana,
ternyata Bilal teguh pada pendiriannya. Ia tak terpengaruh sama sekali. Hati
tuannya terbakar, kehormatannya seperti diinjak-injak. Maka ditaruhlah
sebongkah batu besar diatas dada bidang Bilal. Sambil tersenyum penuh
kemenangan, sang tuan mengulangi lagi pertanyaannya yang menjadi sebab-musabab
marahnya tersulut. “sekarang, siapa tuhanmu, keparat?!”
“AHAD!” Jawaban yang
singkat, tegas, padat dan tentu saja menusuk hati penanyanya.
Ada pesan moral dari
kisah ini yang harus kita tangkap sebagai sebuah niscaya. Bahwa keteguhan
memegang prinsip, cita-cita, sikap, apalagi iman, harus selalu hidup. Ia tak
boleh mati, sampai kapanpun! Sebab zaman sering menuntut yang bukan-bukan untuk
dilayani. Maka lihatlah, betapa banyak iman yang gugur demi sesuap nasi, jati
diri hilang demi sebuah legalitas pergaulan -kita sering merasa bangga dicap
berandal- dan cinta yang terkomersil di etalase-etalase rumah pelacuran.
Kisah orang-orang teguh
selalu mengundang decak kagum. Kehadiranya bukan sekedar kisah omong kosong
yang tak bernilai. Ia selalu menggugah inti kesadaran setiap orang yang rindu
akan perubahan menuju kebaikan. Orang-orang teguh adalah inspirator terbesar
yang menyulut jiwa kita untuk turut meneladani sekaligus mengagumi, meski
sebenarnya mereka tak mengharap hal itu. Mereka memang tak sedang ingin menjual
muka sebagaimana artis murahan –yang kita kagumi?- mendapat sambutan riuh tepuk
tangan ketika mengulurkan bantuan.
Maka, dari keteguhan itu,
lahirlah Nabi Muhammad SAW, Bilal bin Rabah, Imam Ahmad bin Hambal, dan
Masyayikh-masyayikh pesantren kita. Kisah-kisah heroik mereka yang bernilai
tinggi dan penuh pengorbanan yang mengharu-biru tak pernah selesai diungkapkan
oleh sejarah. Setiap waktu. Lagi dan lagi.
Kita? Sebenarnya kita
juga bisa memiliki keteguhan seperti mereka. Sebab keteguhan bukan monopoli
perseorangan. Ia milik siapa saja asal masih bernama manusia. Masalahnya, kita
kadang tak siap dan masih ragu-ragu menjadi orang teguh. Kita terlalu suka
bersikap seperti bunglon yang tak pernah ada di dalam kurikulum Madrasah kita;
ikut-ikutan keadaan.
Dan Saya tak dapat
membayangkan, bagaimana jadinya jika para penerus perjuangan Mbah Sayid
Sulaiman adalah orang-orang yang tak memiliki keteguhan iman, sikap, cita-cita
dan pendirian? Mungkin hari ini tak akan ada orang yang mau berkata Sidogiri
Pesantren Salaf. Dan yang pasti, akan ada gedung-gedung perguruan tinggi
yang berdampingan dengan gedung MMU. Lalu lahirlah mahasantri yang kurang ajar,
merobek agama dan jati dirinya sendiri. Beruntung kenyataannya tidak demikian.
Di sekitar kita masih banyak stok orang-orang teguh yang bisa kita jadikan
teladan.
Dan semoga saja kita mau
mengarifi lagi prasasti yang digurat oleh K. H. Hasani Nawawi. Agar tak ada praduga
dari orang luar; jangan-jangan itu hanya pajangan yang kemudian dilupakan oleh
sejarah dan orang-orangnya. Sebab, mana ada santri yang tak teguh pada Al-Quran
dan sunnah Baginda Rasul?
0 Komentar