Saya sering dibuat kecele oleh hal-hal kecil. Masalah saya kadang
mejadi runyam hanya karena perkara kecil yang saya biarkan mengendap dan
berlarut-larut tanpa penyelesaian. Lalu ia bermetamorfosis menjadi besar dan
mengancam.
Kebakaran toko-toko di kota-kota besar, misalnya, lebih sering
disebabkan puntung rokok atau percikan api dari kesalahan aliran arus listrik.
Paling ‘wah’ disebabkan oleh ledakan tabung gas LPG. Itupun, LPG sulit sekali
kita anggap sebagai hal besar. Sebab sejatinya LPG adalah hal kecil.
Masalah kebakaran ini, kira-kira sama halnya dengan masalah-masalah
yang lain. Mau bukti? Hadis Nabi tentang sesuatu yang memberatkan siksa kubur
ialah karena hal sepele yang bernama ‘kencing’. Mau bukti lagi? Hadis tentang
perempuan yang masuk neraka ialah disebabkan hal remeh bernama ‘kucing’.
Dalam cakupan yang lebih besar, ‘kecil’ malah lebih bermomok lagi. Misalnya
jika kita simak dari sabda Nabi; Fakir mendekatkan pada kekufuran. Hadis
ini mengisyaratkan pada kita tentang bahaya jadi ‘orang kecil’ alias fakir. Ini
bukan berarti fakir itu kufur. Hanya saja, kekufuran lebih banyak disebabkan
oleh kefakiran.
Dengan demikian kita tahu, bahwa kecil itu, semisal kefakiran tadi,
membahayakan! Namun apakah salah jika kita menempuh jalan fakir? Tentu saja
tidak. Karena jalan itu adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi dan para
sahabatnya. Dengan catatan, fakir yang merupakan hal kecil tidak sampai
menghilangkan hal besar yang berupa iman.
Mengenai hal kecil ini, saya jadi teringat pada kisah Khalifah
al-Makmun, putra Harun al-Rasyid, ketika sedang berpidato di hadapan rakyatnya.
Konon, konsentrasi sang Khalifah pecah gara-gara seekor lalat yang terus
hinggap di wajahnya. Dengan amat kesal ia menghentikan pidato kenegaraan
tersebut.
Ah, adakah cerita tentang singa yang menginjak-injak wajah
seseorang dengan riang gembira, apalagi yang diinjak adalah wajah seorang
Khalifah? Betapa sakit, kesal dan sebalnya, seandainya wajah pak Presiden SBY
diinjak-injak singa. Tapi bukankah ia hanya tersenyum kecil ketika hidungnya
dicium mesra oleh kaki-kaki kotor lalat istana?
Itulah hal kecil. Sehebat apapun seekor singa, ia tetaplah hewan
penakut yang tak mau keluar dari hutan. Dan lalat yang kecil itu, dengan
keberaniaannya yang pongah menginjak wajah kita kapanpun ia mau. Ia bahaya
sebab kekecilannya. Maka tak sepantasnya kita meremehkan hal-hal kecil ini.
Itu sama halnya dengan kemerdekaan Negara kita yang didapat dari
hal kecil bernama ‘Bamboe Roencing’. Atau seperti geliat semangat baca kitab
santri yang disulut oleh program kecil bernama I’dadiyah. Ia berpotensi
mengancam dan membahayakan; mengancam siapa saja yang belum tahu baca kitab dan
membahayakan ketenangan orang-orang bodoh!
Wa ba’du, saya mulai suka teriakan kecil
penuh semangat Iwan Fals pada dirinya sendiri, ketika ia terpuruk dan meratapi
kematian anaknya, Galang Rambu Anarki: Oi!
Oi, ayo baca kitab![]
0 Komentar