Diksi yang kita bangun ialah ketakutan. Bukan kita saja
rupanya yang memacu diksi itu terus tumbuh. Mereka yang senyumnya mengalahkan
sahajanya pagi juga turut serta. Kalau begini, aku jadi merindukan mawar yang
pernah kita tanam itu, kawan. Di sore yang renyai dan angin yang menyentuh
lembut wajah kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Komentar