Catatan: Santri, Kawah Candradimuka Pesantren

Catatan: Santri, Kawah Candradimuka Pesantren

Setiap liburan pesantren di depan hidung, sebenarnya seorang santri sedang dihadapkan pada berbagai tantangan. Ia tak semata-mata pulang berlibur tanpa membawa beban dan misi apa-apa. Ada banyak PR di rumah. Makanya sebelum berlibur, para santri harus ditausiyahi dulu agar keteguhannya setebal pagar baja.

Catatan: Tentang Sabar

Catatan: Tentang Sabar

Seorang guru menjadikan pengemudi becak sebagai contoh nyata dari terpujinya sifat sabar. Kenapa becak yang dipilih? Ya, becak bukan saja alat transportrasi tradisional, lebih dari itu ia adalah wujud dari semangat kerja keras orang-orang kelas bawahan sekaligus bukti simple adanya kata-kata bijak ‘tamu adalah raja’.
Saya menduga penemu becak ingin mengatakan bahwa konsep transportasi yang ia ciptakan adalah perwujudan dari abdi sejati seorang pemangku mobilitas kehidupan masyarakat. Dugaan saya ini mengacu pada peletakan jok pengemudi yang berada di belakang jok penumpang, hal ini mengisyaratkan adanya sifat kepemimpinan (pengemudi) yang terus mengawasi rakyatnya (penumpang). Juga, merupakan sikap mendahulukan kepentingan rakyat (penumpang).
Seorang tukang becak, menurut gurunya guru saya, tetap semangat dengan beban yang sangat menumpuk. Tak pernah mengeluh. Saking semangatnya, hingga untuk melihat arah jalan di depannya saja ia sangat kesulitan. Namun ia terus mengayuh becaknya dengan senyum riang. Dengan pandangan dan kesiagaan yang tetap awas.

Catatan: Cobaan dan Hal Lain

Catatan: Cobaan dan Hal Lain

Posisi tinggi selalu dianalogikan dengan sebuah pohon oleh para ahli hikmah. Pohon yang tumbuh semakin tinggi, maka semakin besar pula tantangannya. Angin yang menerjang pohon tinggi jauh lebih ‘kasar dan keras’ ketimbang terjangannya pada pohon kecil. Maka tak heran jika posisi ‘tinggi’ selalu mengundang ‘bisik-bisik halus’ dari lidah-lidah tak bertanggung jawab.
Ada saja yang menjadi bahan cuap-cuap. Entah pujian, gangguan, kecaman, nada-nada sumbang atau gerutu kesal. Sebab posisi tinggi memang bukan ‘posisi aman’. Seperti kisah kebesaran dan kesabaran Nabi Ayyub as. Hilang harta, keluarga, masih juga hilang kesehatan. Namun, sampai sekujur tubuhnya dipenuhi borok sekalipun, beliau tetap sabar. Bahkan bersyukur! Sebab beliau sadar, masih ada Tuhan di hatinya. Maka sebesar apapun cobaan, bagi orang-orang yang lapang dada terlihat seperti debu yang mudah dienyahkan.

Catatan: Upaya

Catatan: Upaya

“Sukses itu, ketika kita bisa mengupayakan harapan dengan cara yang benar dan penuh kesungguhan. Meskipun mungkin tidak tercapai.”
Mas Dwy Sadoellah mengukir kata-kata bijak itu dengan sederhana sekaligus mengena. Saya mendapatinya tergurat di sebuah banner IMNI Ibtidaiyah yang terpampang di samping pintu gerbang MMU As-Suyuthi. Saya rasa, ini bukan hanya warning bagi peserta IMNI saja, tapi lebih bisa diumumkan sebagai ta’rif bersama.
Demi terwujudnya cita-cita, kadang kita mengupayakannya dengan berbagai cara tidak sehat. Apalagi cita-citanya memang sesuatu yang menyimpang dari kebenaran, sudah dapat dipastikan cara-caranya akan ikut keluar dari jalur kebenaran. Maka istilah ‘berbohong demi kebenaran’ pun masih menuai banyak  kontroversi. Bukan masalah ‘tujuannya’, melainkan karena ‘bohongnya’ yang tak dapat dibenarkan sama sekali.

Catatan: Upaya

Catatan: Upaya

“Sukses itu, ketika kita bisa mengupayakan harapan dengan cara yang benar dan penuh kesungguhan. Meskipun mungkin tidak tercapai.”
Mas Dwy Sadoellah mengukir kata-kata bijak itu dengan sederhana sekaligus mengena. Saya mendapatinya tergurat di sebuah banner IMNI Ibtidaiyah yang terpampang di samping pintu gerbang MMU As-Suyuthi. Saya rasa, ini bukan hanya warning bagi peserta IMNI saja, tapi lebih bisa diumumkan sebagai ta’rif bersama.
Demi terwujudnya cita-cita, kadang kita mengupayakannya dengan berbagai cara tidak sehat. Apalagi cita-citanya memang sesuatu yang menyimpang dari kebenaran, sudah dapat dipastikan cara-caranya akan ikut keluar dari jalur kebenaran. Maka istilah ‘berbohong demi kebenaran’ pun masih menuai banyak  kontroversi. Bukan masalah ‘tujuannya’, melainkan karena ‘bohongnya’ yang tak dapat dibenarkan sama sekali.

Catatan: Keteguhan

Catatan: Keteguhan

Santri,berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orangyang berpegang teguh pada Al-Quran dan mengikuti sunnah Rasul SAW. dan teguh pendirian ...
Potongan teks yang digurat oleh Hadratussyeikh Hasani Nawawi ini sudah seperti darah bagi santri Sidogiri. Walau sebagian besar kita belum bisa mengaktualkannya secara utuh, paling tidak kita mampu menghafalnya diluar kepala. Siapa tahu, suatu saat teks sakti ini yang menjadi pengingat bagi kesadaran kita dalam keteguhan memegang prinsip.
Keteguhan, kira-kira seperti kisah sahabat Bilal ketika ia masih berstatus budak. Alkisah, tubuh Bilal yang hitam legam dijemur di tanah lapang oleh tuannya. Alasannya sederhana saja; untuk merontokkan iman Bilal.
Tapi, siapa nyana, ternyata Bilal teguh pada pendiriannya. Ia tak terpengaruh sama sekali. Hati tuannya terbakar, kehormatannya seperti diinjak-injak. Maka ditaruhlah sebongkah batu besar diatas dada bidang Bilal. Sambil tersenyum penuh kemenangan, sang tuan mengulangi lagi pertanyaannya yang menjadi sebab-musabab marahnya tersulut. “sekarang, siapa tuhanmu, keparat?!”
“AHAD!” Jawaban yang singkat, tegas, padat dan tentu saja menusuk hati penanyanya.
Ada pesan moral dari kisah ini yang harus kita tangkap sebagai sebuah niscaya. Bahwa keteguhan memegang prinsip, cita-cita, sikap, apalagi iman, harus selalu hidup. Ia tak boleh mati, sampai kapanpun! Sebab zaman sering menuntut yang bukan-bukan untuk dilayani. Maka lihatlah, betapa banyak iman yang gugur demi sesuap nasi, jati diri hilang demi sebuah legalitas pergaulan -kita sering merasa bangga dicap berandal- dan cinta yang terkomersil di etalase-etalase rumah pelacuran.
Kisah orang-orang teguh selalu mengundang decak kagum. Kehadiranya bukan sekedar kisah omong kosong yang tak bernilai. Ia selalu menggugah inti kesadaran setiap orang yang rindu akan perubahan menuju kebaikan. Orang-orang teguh adalah inspirator terbesar yang menyulut jiwa kita untuk turut meneladani sekaligus mengagumi, meski sebenarnya mereka tak mengharap hal itu. Mereka memang tak sedang ingin menjual muka sebagaimana artis murahan –yang kita kagumi?- mendapat sambutan riuh tepuk tangan ketika mengulurkan bantuan.
Maka, dari keteguhan itu, lahirlah Nabi Muhammad SAW, Bilal bin Rabah, Imam Ahmad bin Hambal, dan Masyayikh-masyayikh pesantren kita. Kisah-kisah heroik mereka yang bernilai tinggi dan penuh pengorbanan yang mengharu-biru tak pernah selesai diungkapkan oleh sejarah. Setiap waktu. Lagi dan lagi.
Kita? Sebenarnya kita juga bisa memiliki keteguhan seperti mereka. Sebab keteguhan bukan monopoli perseorangan. Ia milik siapa saja asal masih bernama manusia. Masalahnya, kita kadang tak siap dan masih ragu-ragu menjadi orang teguh. Kita terlalu suka bersikap seperti bunglon yang tak pernah ada di dalam kurikulum Madrasah kita; ikut-ikutan keadaan.
Dan Saya tak dapat membayangkan, bagaimana jadinya jika para penerus perjuangan Mbah Sayid Sulaiman adalah orang-orang yang tak memiliki keteguhan iman, sikap, cita-cita dan pendirian? Mungkin hari ini tak akan ada orang yang mau berkata Sidogiri Pesantren Salaf. Dan yang pasti, akan ada gedung-gedung perguruan tinggi yang berdampingan dengan gedung MMU. Lalu lahirlah mahasantri yang kurang ajar, merobek agama dan jati dirinya sendiri. Beruntung kenyataannya tidak demikian. Di sekitar kita masih banyak stok orang-orang teguh yang bisa kita jadikan teladan.
Dan semoga saja kita mau mengarifi lagi prasasti yang digurat oleh K. H. Hasani Nawawi. Agar tak ada praduga dari orang luar; jangan-jangan itu hanya pajangan yang kemudian dilupakan oleh sejarah dan orang-orangnya. Sebab, mana ada santri yang tak teguh pada Al-Quran dan sunnah Baginda Rasul?

Catatan: Tanda Tanya #2

Catatan: Tanda Tanya #2

Saya pernah membaca terjemah salah satu ayat surat Lukman. Isinya sungguh menggetarkan hati. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai bermunculan dalam kepala. Bagaimana kalau ternyata kita masuk dari salah satu orang yang disebutkan itu. Misalnya kita termasuk dari orang-orang yang angkuh. Lantas ketika berjalan, kita merasa tak ada lagi yang lebih hebat selain kita?
Bagaimana bila kita termasuk dari golongan yang sombong, sehingga untuk sekedar melihat wajah orang lain pun kita enggan? Bagaimana jika ternyata kisah kesombongan Fir’aun, yang dengan berani mengaku sebagai tuhan itu  terjadi pada kita hari ini. Lalu dengan serta merta kita mengingkari keesaan dan segala nikmat yang telah Allah limpahkan. Sehebat apakah kita, jika ternyata untuk mensyukuri nikmat yang paling kecil saja kita tak sudi? Na’udzubillah!
Tahu si Qorun? Seorang lelaki yang awalnya taat pada Nabi Musa, kemudian mengingkari kenabiannya lantaran sudah kaya. Saking kayanya, konon, kunci pintu harta Qorun harus diusung oleh sepuluh orang. Tapi apakah yang kemudian ia dapat dari kesombongan dan keangkuhannya, selain adzab dari Allah, yaitu ditelan bumi bersama semua harta-hartanya?
Bagaimana jika ternyata keingkaran, keangkuhan dan kesombongan Qorun itu terjadi pada kita? Lalu dengan sombong kita tak mau bersyukur. Padahal kita, misalnya, hanya memiliki secuil harta? Atau bagaimana jika ternyata kita lebih sombong dan angkuh dari pada Qorun itu sendiri? Na’udzubillah
Dan saya lebih tertegun lagi membaca terjemah surat Al-Ma’un. Maka, celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. Yang berbuat riya’. Dan enggan (memberi) bantuan.
Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan lagi dalam otak. Bagaimana jika orang yang lalai itu adalah kita. Mungkin disebabkan oleh hiburan, atau alasan lainnya hingga membuat kita lalai pada kewajiban. Bagaimana jika kisah Barshishah yang mampu beribadah sekian tahun, lalu hangus begitu saja hanya dengan menenggak khamar itu terjadi pada kita?
Bagaimana jika orang yang riya’ itu adalah kita juga. Maka, apakah gunanya kita beribadah sedemikian rupa jika ujung-ujungnya hanya untuk mendapat pujian orang lain, bukan semata-sema lillahi ta’ala? Sungguh amal kita akan terbakar sia-sia. Tak tersisa. Seperti panas setahun yang dihapus oleh hujan sehari?
Bagaimana jika orang yang enggan mengulurkan tangan itu adalah kita. Bahkan untuk sepeser pun kita tak mau mengulurkan pada para yatim, atau pada teman kita yang sedang membutuhkan? Bukankah Nabi mengajarkan, tangan yang berada di atas lebih mulia dari pada tangan yang berada di bawah? Tapi adakah kita sudah mengamalkannya. Bagaimana jika kita dicap sebagai hamba yang merugi di akhirat kelak, sementara di dunia kita merasa menjadi hamba yang paling hebat dan paling shaleh.
Saya mengetik tulisan ini dengan pertanyaan yang terus berseliweran dalam otak. Tak henti-henti. Tentang hidup, ibadah dan jiwa kita sendiri yang tak kunjung kita kenal!

Catatan: Tanda Tanya

Catatan: Tanda Tanya

Saya selalu ingat sebuah ungkapan hebat tentang pentingnya bertanya. Katanya, Malu bertanya, sesat di jalan. Dari ungkapan ini saya menyadari hal baru tentang konsep hubungan antara satu makhluk dengan yang lainnya. Bahwa makhluk sosial yang bernama manusia, sehebat apapun, tetap membutuhkan orang lain. Maka, bertanya menjadi sebuah keniscayaan hidup. La budda!
Ada kisah inspiratif tentang pentingnya bertanya. Konon, teori gaya gravitasi bumi yang masyhur itu lahir dari sebuah pertanyaan sederhana seorang lelaki bernama Sir Isaac Newton. Alkisah, pada suatu siang yang terik, ketika sedang enak-enaknya ngaso di bawah pohon apel yang rindang, kepala Newton dijatuhi oleh buah apel yang ranum. Ia terkejut bukan main. Lalu timbul pertanyaan sederhana dalam pikirannya yang kemudian menyeruak, mengapa setiap benda jatuh itu selalu ke bawah?
Pada masa ke-khalifah-an Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq, ada kisah yang lebih menarik lagi, tentang seorang panglima besar Romawi, Jarojah. Ketika itu, terbersit di hatinya pertanyaan tentang kehebatan Sayyidina Khalid bin al-Walid yang selalu menang dalam segala medan perang. Juga tentang julukannya yang menggetarkan, si Pedang Allah. Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu baru terjawab pada perang Yarmuk, ketika Jarojah menanyakan langsung pada al-Walid yang akhirnya mengantarkan Jarojah pada kebenaran Islam. Kabar baiknya, Jarojah mampu melaksanakan shalat dua rakaat yang kemudian syahid di perang Yarmuk.
Bagi kita, mungkin pertanyaan semacam itu klise dan tak bermutu, atau bahkan tak penting sama sekali. Tapi adakah kita berpikir bahwa berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itulah yang melahirkan hal-hal hebat. Maka, kadang dari pertanyaan tak penting bisa menjelma menjadi perubahan besar.  Seperti kisah Sir Isaac Newton dan Jarojah tadi.
Kita harusnya bisa mengambil teladan dari kisah tadi. Bahwa kadang, di tengah hiruk-pikuk dunia ini, kita memang harus menyediakan waktu khusus untuk muhasabah diri. Kita mesti memberi kesempatan pada diri untuk mempertanyakan semua kinerja tubuh. Misalnya pertanyaan tentang kebaikan apa yang telah kita lakukan selama sehari, atau kemaslahatan apakah yang sudah kita sumbangkan pada hidup? Adakah kebaikan yang dominan, atau justru keburukan yang paling mewarnai aktifitas kita?
Memang, tak semua pertanyaan butuh jawaban, sebab ada kalanya pertanyaan itu hanya bersifat mengingatkan. Seperti yang bertebaran di dalam al-Quran. Banyak ayat-ayat di dalam al-Quran yang diakhiri oleh pertanyaan-pertanyaan, semisal; a falâ ta’qilûn, a falâ ta’lamûn, afalâ yatadabbarûna al-Qurân. Atau ayat-ayat yang memang bersifat pertanyaaan secara umum, semisal dalam surat al-Qari’ah.
Sekarang, silakan kasih ‘tanda tanya’ dalam diri Anda sendiri, kemaslahatan apakah yang sudah saya sumbangkan pada Sidogiri? Anda tak perlu repot-repot teriak untuk menjawabnya. Cukup dengan berbisik saja dalam hati; apa, ya!?

Catatan: Oi

Catatan: Oi

Saya sering dibuat kecele oleh hal-hal kecil. Masalah saya kadang mejadi runyam hanya karena perkara kecil yang saya biarkan mengendap dan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Lalu ia bermetamorfosis menjadi besar dan mengancam.
Kebakaran toko-toko di kota-kota besar, misalnya, lebih sering disebabkan puntung rokok atau percikan api dari kesalahan aliran arus listrik. Paling ‘wah’ disebabkan oleh ledakan tabung gas LPG. Itupun, LPG sulit sekali kita anggap sebagai hal besar. Sebab sejatinya LPG adalah hal kecil.
Masalah kebakaran ini, kira-kira sama halnya dengan masalah-masalah yang lain. Mau bukti? Hadis Nabi tentang sesuatu yang memberatkan siksa kubur ialah karena hal sepele yang bernama ‘kencing’. Mau bukti lagi? Hadis tentang perempuan yang masuk neraka ialah disebabkan hal remeh bernama ‘kucing’.
Dalam cakupan yang lebih besar, ‘kecil’ malah lebih bermomok lagi. Misalnya jika kita simak dari sabda Nabi; Fakir mendekatkan pada kekufuran. Hadis ini mengisyaratkan pada kita tentang bahaya jadi ‘orang kecil’ alias fakir. Ini bukan berarti fakir itu kufur. Hanya saja, kekufuran lebih banyak disebabkan oleh kefakiran.
Dengan demikian kita tahu, bahwa kecil itu, semisal kefakiran tadi, membahayakan! Namun apakah salah jika kita menempuh jalan fakir? Tentu saja tidak. Karena jalan itu adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi dan para sahabatnya. Dengan catatan, fakir yang merupakan hal kecil tidak sampai menghilangkan hal besar yang berupa iman.
Mengenai hal kecil ini, saya jadi teringat pada kisah Khalifah al-Makmun, putra Harun al-Rasyid, ketika sedang berpidato di hadapan rakyatnya. Konon, konsentrasi sang Khalifah pecah gara-gara seekor lalat yang terus hinggap di wajahnya. Dengan amat kesal ia menghentikan pidato kenegaraan tersebut.
Ah, adakah cerita tentang singa yang menginjak-injak wajah seseorang dengan riang gembira, apalagi yang diinjak adalah wajah seorang Khalifah? Betapa sakit, kesal dan sebalnya, seandainya wajah pak Presiden SBY diinjak-injak singa. Tapi bukankah ia hanya tersenyum kecil ketika hidungnya dicium mesra oleh kaki-kaki kotor lalat istana?
Itulah hal kecil. Sehebat apapun seekor singa, ia tetaplah hewan penakut yang tak mau keluar dari hutan. Dan lalat yang kecil itu, dengan keberaniaannya yang pongah menginjak wajah kita kapanpun ia mau. Ia bahaya sebab kekecilannya. Maka tak sepantasnya kita meremehkan hal-hal kecil ini.
Itu sama halnya dengan kemerdekaan Negara kita yang didapat dari hal kecil bernama ‘Bamboe Roencing’. Atau seperti geliat semangat baca kitab santri yang disulut oleh program kecil bernama I’dadiyah. Ia berpotensi mengancam dan membahayakan; mengancam siapa saja yang belum tahu baca kitab dan membahayakan ketenangan orang-orang bodoh!
Wa ba’du, saya mulai suka teriakan kecil penuh semangat Iwan Fals pada dirinya sendiri, ketika ia terpuruk dan meratapi kematian anaknya, Galang Rambu Anarki: Oi!
Oi, ayo baca kitab![]