Saya punya banyak pendapat yang rata-rata tidak saya
sampaikan dengan baik dan oleh sebab itulah saya menjadi orang suka kepikiran.
Misalnya saya punya pendapat bahwa untuk menjadi orang baik, pertama-tama yang
perlu kita lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan mulai memperbaiki
kinerja tubuh.
Pendapat itu, sayangnya, hanya ada di otak saya dan saya
sibuk merangkai-rangkai sendiri bahasa yang akan saya sampaikan. Namun saya
malah menjadi terus kepikiran karena akhirnya saya kesulitan memulai
membicarakan pendapat saya itu. Harus dimulai dari bagian mana?
Seorang teman, yang saya rasa lebih banyak pengalamannya
dari pada saya, memberi komentar tentang penyakit yang saya rasakan ini. Katanya,
mulailah darimana saja. Tak berpikir lima kali untuk memulai sebuah langkah.
Cukup bergerak saja. Tak perlu kalimat yang tersusun untuk mengatakan apapun.
Cukup katakan saja. Kalau ternyata terasa bahasa yang garing dan tak
mencerminkan bahasa para cendekiawan, itu bisa dimaklumi, sebab kau masih
pemula.
Saya cukup mengerti dengan komentar panjangnya. Itu bisa
saja saya lakukan, tapi tidak mudah. Saya
pemula dan mental saya down, entah oleh sebab apa. Saya sulit bicara di
depan umum. Saya punya pendapat, tapi saya tak tahu mengeluarkan pendapat itu.
Maka jadilah catatan sebagai ‘pelampiasan’ saya. Biarlah
catatan ini saja yang mewakili apapun yang dipikirkan oleh kepala saya. Harapan
terbesar saya adalah ada satu-dua orang membaca catatan ini dan mengerti apa
yang saya maksudkan. Tak penting orang itu bisa melakukan, yang paling aku
harap ialah ada yang mau membaca tulisanku. Itu sudah lebih dari cukup.
Lalu saya berniat, jika ada orang bertanya padaku
tentang apasaja, saya akan menjawab, ‘menulislah!’. Kalau ada teman atau
siapalah yang mengadukan ketakutannya pada setan, maka saya jawab,
‘menulislah!’ Tulisan mampu mengurangi perasaan takut itu.