Catatan #4

Catatan #4
Saya punya banyak pendapat yang rata-rata tidak saya sampaikan dengan baik dan oleh sebab itulah saya menjadi orang suka kepikiran. Misalnya saya punya pendapat bahwa untuk menjadi orang baik, pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan mulai memperbaiki kinerja tubuh.
Pendapat itu, sayangnya, hanya ada di otak saya dan saya sibuk merangkai-rangkai sendiri bahasa yang akan saya sampaikan. Namun saya malah menjadi terus kepikiran karena akhirnya saya kesulitan memulai membicarakan pendapat saya itu. Harus dimulai dari bagian mana?
Seorang teman, yang saya rasa lebih banyak pengalamannya dari pada saya, memberi komentar tentang penyakit yang saya rasakan ini. Katanya, mulailah darimana saja. Tak berpikir lima kali untuk memulai sebuah langkah. Cukup bergerak saja. Tak perlu kalimat yang tersusun untuk mengatakan apapun. Cukup katakan saja. Kalau ternyata terasa bahasa yang garing dan tak mencerminkan bahasa para cendekiawan, itu bisa dimaklumi, sebab kau masih pemula.
Saya cukup mengerti dengan komentar panjangnya. Itu bisa saja  saya lakukan, tapi tidak mudah. Saya pemula dan mental saya down, entah oleh sebab apa. Saya sulit bicara di depan umum. Saya punya pendapat, tapi saya tak tahu mengeluarkan pendapat itu.
Maka jadilah catatan sebagai ‘pelampiasan’ saya. Biarlah catatan ini saja yang mewakili apapun yang dipikirkan oleh kepala saya. Harapan terbesar saya adalah ada satu-dua orang membaca catatan ini dan mengerti apa yang saya maksudkan. Tak penting orang itu bisa melakukan, yang paling aku harap ialah ada yang mau membaca tulisanku. Itu sudah lebih dari cukup.
Lalu saya berniat, jika ada orang bertanya padaku tentang apasaja, saya akan menjawab, ‘menulislah!’. Kalau ada teman atau siapalah yang mengadukan ketakutannya pada setan, maka saya jawab, ‘menulislah!’ Tulisan mampu mengurangi perasaan takut itu.

Catatan #3

Catatan #3
Diksi yang kita bangun ialah ketakutan. Bukan kita saja rupanya yang memacu diksi itu terus tumbuh. Mereka yang senyumnya mengalahkan sahajanya pagi juga turut serta. Kalau begini, aku jadi merindukan mawar yang pernah kita tanam itu, kawan. Di sore yang renyai dan angin yang menyentuh lembut wajah kita.

Catatan #2

Catatan #2
Ruas-ruas jalan. Trotoar dan jembatan. Pertigaan, juga perempatan. Semua menatapku. Seperti sepasang bola mata pencuri berbau bangkai yang awas.
Kujumpai kau di sana, perempuan berparas surga. Di ruas jalan. Di trotoar dan jembatan. Di pertigaan, juga perempatan. Matamu yang tajam namun mawar menatapku. Semisal sepasang mata bidadari.
Aku lelakimu, yang matanya ditawan bangkai dan mawar...

Catatan #1

Catatan #1
Dan ketika semua bermula, jalan tersulit ialah mempertahankannya. Aku tak tahu harus memakai kekebalan macam apa agar jalan yang telah kutata dan wajah yang selesai kubaluti tembaga mampu terus bertahan mengebalkan ketegasanku.
“Kau yang memulai, bukan? Untuk apa bimbang.”
Bukan, bukan itu. Aku memikirkan jalan jauh itu yang ketika kutatap tak nampak ujungnya.
“Kau terlalu obsesif!”
“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Tak semua orang yang cemberut berarti membencimu. Tak pernah!”
Tapi aku telah memulai ini. Lihatlah kalau ternyata aku berbalik arah dan orang-orang mencemoohku lantaran kekerdilanku. Aku hanya bisa memulai.
Bukankah hanya memulai yang kita suka, untuk selanjutnya biarlah menguap dan hilang begitu saja. Makanya banyak akun-akun jejaring sosial yang hanya lahir namun tak mampu hidup. Atau juga seperti yayasan dan dunia pendidikan yang lahir lalu mati seketika.

Ah,